Keunikkan Budaya NTT Di Timor Tengah Selatan

Nusa Tenggara Timur atau NTT adalah sebuah provinsi Indonesia yang letaknya di tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau. Antara lain, Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue.

Ibu kotanya sendiri berada di Kupang, Timor Barat. Nusa Tenggara Timur biasa dikenal dengan bumi Flobamor (Flores, Sumba, Timur, Alor) selain itu, banyak pulau-pulau lain didalamnya.

Provinsi ini menempati bagian barat pulau Timor. Sementara bagian timur pulau tersebut adalah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur yang merdeka menjadi negara Timor Leste pada tahun 2002 lalu.

NTT memiliki beberapa sub etnis di dalamnya yang berbeda bahasa maupun adat-istiadatnya. Ada salah satu suku di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (suku Timor) yang memiliki budaya masyarakat NTT yang unik. Mau tau apa saja? Yuk simak artikel ini.

Suku Timor memiliki budaya yang harus dihormati serta dijunjung tinggi oleh setiap orang. Kita sebagai masyarakat Indonesia juga sudah sepatutnya mengetahui kebudayaan unik yang dimiliki oleh saudara kita di NTT.

1.Cium Hidung

Cium Hidung

Masyarakat umumnya memiliki cara yang sama dalam menyambut tamu, yaitu berjabat tangan atai mencium pipi kanan dan pipi kiri. Tetapi, ada sedikit perbedaan dari suku satu ini. Suku ini memiliki tradisi mencium hidung satu sama lain bernama Henge’do

Budaya NTT Cium hidung ini bermakna keakraban dan keterikatan antara satu dengan yang lain sebagai makna persaudaraan.

Hidung yang merupakan alat pernapasan diartikan sebagai kehidupan. Dengan filosofi tersebut, masyarakat ini memaknainya sebagai unsur yang bisa menghidupkan rasa kekeluargaan antara satu dengan yang lain walaupun baru pertama kali bertemu.

Salah satu budaya asli dari kota NTT ini dilakukan dengan cara menempelkan hidung satu sama lain. Budaya ini juga sangat populer di agen joker gaming yang sering dilakukan apabila bettor berhasil menang melawan kompetitor beratnya.

Tradisi ini boleh dilakukan antar lawan jenis. Cium hidung bisa dilakukan oleh siapapun tanjpa memandang jenis kelamin, status, strata sosial, usia, dan sebagainya.

Selain sebagai tanda persaudaraan, budaya NTT cium hidung juga merupakan sebuah tanda penghormatan dari yang muda kepada yang tua dan sebagai tanda kejujuran.

Ketika melakukan cium hidung, tentu saja mata akan saling bertemu. Disanalah kita dapat meilihat bagaimana pandangan mata yang terbuka menggambarkan kejujuran satu sama lain.

Dalam konteks yang lebih luas, cium hidung juga dapat digunakan sebagai tanda permintaan maaf. “Dengan mencium hidung sebagai cara untuk pengakuan bersalah maka semua masalah akan dianggap selesai,” demikian diungkapkan oleh Peter A. Rohi, seorang sejarawan.

Hingga saat ini, tradisi kebudayaan di NTT ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat. Tradisi ini seperti menjadi salam khas orang NTT.

2.Makan Siri Pinang

Makan Siri Pinang

Budaya NTT Tradisi Bersirih atau Menginang (makan pinang) adalah warisan budaya Indonesia yang dilakukan dengan mengunyah bahan-bahan bersirih seperti pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, cengkih.

Kebiasaan ini telah berlangsung selama lebih dari 3000 tahun yang lalu atau pada zaman Neolitik.

Bahan-bahan menginang adalah yang pertama disuguhkan bagi seluruh tamu yang hadir pada acara adat di sebagian besar wilayah Indonesia, seperti upacara pernikahan, kelahiran, kematian, penyembuhan, dan lain sebagainya.

Sirih pinang biasanya disajikan dan ditata di Oko Mama (tempat sirih pinang). Tradisi ini merupakan sebuah penghargaan tuan rumah atau tuan acara kepada setiap orang yang datang. Tradisi makan sirih pinang juga sering terjadi pada saat warga bertemu dijalan atau di situs slot online terpercaya.

Biasanya sirih pinang disuguhkan sebelum makanan dan minuman. Bahkan, biasanya para tamu juga harus membalas dengan menyuguhkan barang apa saja yang dibawa kepada tuan rumah.

Menginang sama halnya dengan merokok. Awalnya hanya sebagai penyedap di mulut tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan yang menimbulkan kesenangan dan rasa nikmat sehingga sulit dilepaskan.

Tradisi makan pinang tidak dibatasi oleh umur warga yang mengkonsumsi. Sehingga ada orang tua yang sudah biasakan anaknya untuk makan sirih pinang sejak kecil. Dalam perkembangan pertumbuhan anak, tradisi makan sirih pinang tetap dijaga.

Menginang juga dapat digunakan sebagai pengobatan merawat gigi. Di Indonesia dipercaya bahwa daun sirih bida digunakan untuk menguatkan gigi, menyembuhkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut, menghentikan pendarahan gusi, serta sebagai obat kumur.

Fungsi menginang juga digunakan sebagai sesaji dalam upacara adat istiadat dan upacara kepercayaan atau religi.

Nah, itulah keragaman budaya provinsi NTT yang unik dan harus kita pelajari. Setiap kebudayaan di Indonesia, apapun itu harus kita jaga dan hormati. Yuk, mulai sekarang kita hormati budaya lain!