Kebudayaan Bali: Kekayaan Indonesia yang Patut Kita Banggakan

Pulau Bali merupakan salah satu pulau terindah di Indonesia. Untuk kalian yang pernah berkunjung ke pulau Dewata ini, pasti sudah kenal dengan beberapa wisata budaya Bali.

Namun, pulau Bali tidak hanya menawarkan keindahan-keindahan wisatanya saja, ada juga kebudayaan Bali yang unik dan banyak sekali.

Budaya masyarakat di Bali juga memiliki kehidupan yang teratur dan membentuk suatu persekutuan hukum yang dinamakan thana atau dusun bandar slot yang dikenal sebagai tempat main judi slot online terpercaya di Indonesia.

Hukum ini terdiri dari beberapa banua. Persekutuan inilah yang menjadi cikal bakal desa-desa di Bali.

Nah, untuk kalian yang belum kenal atau belum tahu apa saja isi dari kebudayaan bali ini, mari simak artikel berikut ini.

1.Upacara Adat Ngaben

Upacara Adat Ngaben

Upcara adat Ngaben dilakukan di pinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit, Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai seuah desa kuna.

Konon katanya, ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau menyan yang sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk datang. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pinggit di sekitar pohon cemara Landung di Hutan.

Taru Menyan itulah yang berubah menjadi seorang dewi yang juga merupakan istri dari Ida Ratu Pancering Jagat.

Sebelum menikah, Ratu Gede sempat mengajak masyarakat desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa. Desa itu dinamakan Taru Menyan yang sekarang disebut dengan Trunyan. Desa ini terletak di kecamatan Kintamani, daerah tingkat II Bangli.

Pada umunya, jika ada orang yang meninggal di Bali, terutama bagi umat Hindu selain dikubur bisa dibakar atau di kremasi langsung, namun, di budaya bali kuno ini jenazah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah perkuburan.

Trunyan memiliki keunikan dan daya tarik paling tinggi karena hal ini. Ketiga jenis kuburan di klasifikasikan menurut umur, kebutuhan jenazah dan cara penguburannya:

  • Kuburan pertama atau Setra Wayah merupakan kuburan yang paling suci dan paling baik. Jenazah yang dikuburkan merupakan jenazah yang jasadnya maish utuh, tidak cacat, dan proses meninggalnya dianggap wajar (tidak bunuh diri atau mengalami kecelakaan)
  • Kuburan kedua atau kuburan muda diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun dengan syarat jenazah tersebut harus utuh dan tidak cacat.
  • Kuburan ketiga atau Sentra Bantas, digunakan untuk jenasah yang cacat dan meninggal secara tidak wajar (bunuh diri atau kecelakaan)

Dari ketiga kuburan tersebut, yang paling unik dan menarik adalah kuburan pertama. Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian Utara desa dan dibatasi tonjolan kaki tebing bukit.

Jenasah dibawa menggunakan sampan kecil yang disebut Pedau. Jenasah awalnya di upacarai lalu diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20cm. cara penguburan ini disebut dengan mepasah.

Sebagian badan jenasah (dari bagian dada ke atas) dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah dan dipagari oleh ancak saji agar tidak dicari ataupun disantap oleh binatang liar.

Namun uniknya, jasad tersebut tidak ada mengeluarkan bau busuk sedikitpun sampai hanya tersisa tulang belulang saja. Tulang tersebut nantinya diletakkan pada sebuah tempat di kawasan tersebut.

2.Upacara Mekotek

Upacara Mekotek

Upacara Mekotek yang merupakan budaya lokal bali ini dilakukan dengan tujuan memohon. Upacara ini juga dikenal dengan istilah ngerebek.

Tradisi ini dilakukan setiap 6 bulan sekali (210 hari) tepatnya saat perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan)

Budaya bali jaman dulu ini awalnya menggunakan tombak besi. Namun, seiring berjalannya waktu dan untuk menghindari peserta yang terluka, tombak ini mulai diganti dengan bahan kayu pulet pada tahun 1948. Tombak yang asli dilestarikan dan disimpan di Pura.

Dulunya, perayaan ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda 1915 (Ida Bagus Gede Mahadewa) karena takut terjadi pemberontakan, namun akbitanya muncul wabah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan memakan banyak korabn jiwa.

Lalu akhirnya upacara ini diizinkan kembali dan sejak saat itu, tidak ada lagi bencana. Upacara ini diikuti sekitar 2000 penduduk dari umur 12 – 60 tahun.

Mereka menggunakan pakaian adat Madya dengan hanya mengenakan celana dalam dan udeng batik serta membawa selonjoran kayu 2 meter yang telah dikuliti. Pada tengah hari seluruh peserta berkumpul di Pura Dalem Munggu yang memanjang.

Disana dilakukan upacara syukuran bahwa selama 6 bulan pertanian perkebunan dan segala usaha penduduk berlangsung dengan baik.setelah upacara, seluruh peserta melakukan pawai menuju sumber air yang ada di bagian utara kampung.

Kemudian, warga dibagi menjadi beberapa kelompok, di setiap pertigaan yang mereka lewati, mereka akan membentuk segitiga menggabungkan kayu-kayu tersebut hingga berbentuk kerucut lalu mereka berputar dan berjingkrak dengan iringan gamelan.

Pada saat yang tepat, seseorang yang dianggap punya nyali akan mendaki puncak piramid dan melakukan atraksi seperti mengangkat tongkatnya atau mengepalkan tangan sambil berteriak lalu kemudian ditabrakkan dengan kelompok yang mendirikan tumpukkan kayu yang lain.

Sesampai di sumber air, temng suci, dan segala perangkat upacara yang dikeluarkan dari Pura Dalem diberi air tirta suci dan dibersihkan.

Kemudian mereka melakukan pawai kembali untuk menyimpan semua barang tadi ke Pura Dalem. Atraksi budaya bali yang terkenal ini hanya bisa anda saksikan di Pulau Dewata Bali.

Itulah beberapa sejarah budaya bali yang harus kita ketahui dan banggakan. Kebudayaan Bali yang sangat unik ini harus senantiasa kita jaga dan lestarikan.